 |  | Blog | May 27, 2008 |
By Ayi Jufridar Penulis adalah ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe SECARA awam dipahami bahwa pers yang merupakan... more  | Guestbook | |
 | Assalamu,alaikum,wr,wb.Numpang mampir,salam kenal. |
 | happy birthday bang... apa kabar? |
 | Terima kasih, salam kenal kembali. |
 | assalammualaikum wr wb,,,,,,
redaktur ayi jufridar,
\salam kenal ja ya,,,,,,,, |
 | Moral adalah perbuatan yang kau rasa baik sesudahnya. Dan immoral adalah perbuatan yang kau rasa jelek sesudahnya. Ernest Hemingway (1899 – 1961). Novelis. |
 | Ukuran karakter sejati dari seseorang adalah apa yang dilakukannya ketika ia tahu tidak aka nada orang yang mengetahui tindakannya tersebut. Thomas Babington Macaulay (1800 – 1859). Negarawan. |
 | Dengki itu memakan kebaikan, sebagaimana api membakar kayu. Sedangkan sedekah itu menghapus kesalahan, sebagaimana air memadamkan api. Hadist Riwayat Ibnu Majah. |
 | Seseorang yang tidak jelas karakternya takkan pernah dapat dikatakan menjadi kepunyaan diri sendiri… Ia adalah kepunyaan apa pun yang menguasainya. John Foster (1770 – 1843), penulis. |
 | Orang tidak terluka perasaannya karena keadaan yang berubah, tetapi karena opini yang dibuat atas perubahan yang terjadi. Michael Eyquem de Montaigne (1533 – 1592), penulis. |
 | Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan satu lagi bersabar. Khalil Gibran (1883 – 1931). Sastrawan. |
 | 15. Kebencian atau dendam tidak menyakiti orang yang tidak Anda sukai. Tetapi setiap hari dan setiap malam dalam kehidupan Anda, perasaan itu menggerogoti. Norman Vincent Peale (1898 – 1993), pendeta |
 | Memang jai that nyang salah pike. Bahkan na nyang lakee meucinta. Hahaha.... |
 | Ass..Bang Ayi... Ooomaaan..rupanya yg namanya Ayi..agam lagoe...lon pike awai inong...
nyankeuh meuseu awai taturi nan ngon ureung...lon lakei Muah beurayeuk that Bang Ayi...saleum muturi... |
 | Hai Tgk Ayi, seunang meureumpoek ngoen ngoen Aduen, neusaweue syit siblah |
 | asalamu´alaikum,, loen piyoeh siat koen jeut,,, sira loen kaloen2,,heeee,,,heee,,,heee,,heeee |
 | Baik, Dina. Gimana di Trans 7. Dapat gaji Rp7 miliar, kan?
|
 | hai bang ayi...apa kabar? |
 | Bubuk Mengawali celoteh ini, kucoba pandang kembali air setengah penuh dalam gelas yang kau sebutkan. Bukan setengah terisi. Meski kadarnya sama. Air yang tatkala mendidih jadi masalah. Aku, kamu dan semua kita akan direbusnya.
Namun, sebagai apa kita akan wujud dalam masalah itu, telur, kentang, atau bubuk? Bila kita jadi telur, maka kelembutan akan mengeras. Jadilah kita ego. Lihat kawan. Putih telur yang lembek penuh protein itu, ketika tenggelam dalam panasnya rebusan akan mengeras. Bahkan cangkangnya akan pecah.
Bila kita jadi telur dalam air mendidih yang tadi kuajak memandangnya sebagai masalah, maka kita akan jadi orang-orang egois, tempramen dan sebagainya. Kita yang sama-sama lembut dalam kebersamaan membangun media ini, akan pecah seperti pecahnya cangkang telur dalam rebusan.
Kita akan keluar dari masalah sebagai orang kuat, orang yang keras, tapi tanpa kebersamaan. Dan media ini akan hancur. Sementara air yang mendidih sebagai masalah, tetap mendidih, ia tak berubah sama sekali. Kita saja yang dirubahnya dari lembut jadi keras dan pecah. Telur tak mampu merubah air kawan. Jadi kita jangan jadi telur.
Lalu kentang kawan. Kentang yang awalnya keras, ketika air mendidih merebusnya, ia akan lembek. Bila kita jadi kentang, kita juga orang-orang yang kalah. Kita sama-sama punya komitmen keras untuk membangun media ini, tapi kerasnya komitmen itu melembek ketika berhadapan dengan mendidihnya masalah.
Ini bisa terjadi bila kita memandang air mendidih itu sebagai masalah dari sisi berbeda. Sekali lagi kawan, air tetap air yang mendidih, kentang tak mampu mengubahnya. Lalu, masalah akan tetap saja jadi masalah tanpa penyelesaian.
Tapi mari kawan, aku mengajak kita semua jadi bubuk. Misalkan saja bubuk kopi. Sebesar apa pun masalah dalam wujud air mendidih itu, warnanya akan berubah ketika kita sebagai bubuk masuk dan teraduk di dalamnya. Masalah akan larut. Lalu mari sama-sama kita tambah sedikit gula, karena menyerumpun sedikit kopi hangat diakhir celoteh ini terasa nikmat. Apa lagi ketika kita nikmati bersama. Ada kafein yang ingin kubagi padamu.***
|
 | bang ayi gak mau melatih, jadi gitulah. salam |
     |  |       |
| |